RUMAH JOGJA   Magazine : Edisi 3: Agustus 2007 Home | Peta Situs | Kontak     

BOARD OF TEAM
RUMAH JOGJA MAGAZINE

Penerbit:
Rumah Jogja

Executive Director:
Abem Gondowiardjo

GA & IT Director:
Andi Setiawan

Operational Director:
FX. Wahyu Prasetyo

Marketing Promotion Dir.:
Erry Febianto

Marketing & Distribution:
Budi Santosa

Creative Director:
Allief Nanang S.

IT Support:
B. Ferryanto Nugroho

Contributing Teams:
Azizah Fitriani
Pratiwi
Nuraini
Sri Zuliari
Yulianti Retno W

Office:
Operasional & Marketing Promotion :
Kompleks SPBU Banyuraden Jl. Godean Km. 4,5 Yogyakarta Indonesia

Creative & Redaksional :
Jl. Kaliurang Km.5 Gg. Megatruh Gayamsari III CT-2 G-5 Yogyakarta Indonesia

Telepon/Fax:
+62 274 565658

Hotline:
+62 815 787 14614 ( Wahyu )
+62 818 460 492 ( Erry )
+62 813 9155 4877 ( Budi )

Email:
info@rumahjogja.com
marketing@rumahjogja.com
redaksi@rumahjogja.com

Website:
www.rumahjogja.com

Bank:
Bank Central Asia (BCA)
rek: 0 6000 29 657
a/n: Andi Setiawan

Bank Mandiri
rek: 137 000 5777 655 0
a/n: FX. Wahyu Prasetyo




GEBYOG, BUKAN PEMBATAS BIASA

Gebyog bukan sekadar pembatas ruang, tetapi juga menjadi interior yang memperindah rumah. Bahkan, gebyog mampu menunjukkan jati diri pemiliknya

Rumah yang terletak di jalan Gayam no 34, Baciro, Yogyakarta itu belum sepenuhnya selesai dibangun. Masih terlihat beberapa pekerja bangunan yang sibuk memasang kayu di langit-langit rumah bagian belakang. Meski belum selesai, keunikan pendopo yang berada di bagian depan rumah sudah terlihat. Pendopo ini tertutup, tidak seperti pada umumnya yang terbuka. Bagian kanan dan kiri pendopo ditutup dengan batu bata merah. Bagian depan pendopo merupakan sisi yang paling unik karena menggunakan gebyog dari kayu jati yang berhiaskan ukiran.

Gebyog yang terpasang di kediaman Dra. Hj. Heroemoerti Boestaman ini menggunakan ukiran gaya Kudus. Ciri khas ukiran gaya Kudus yang berlubang membuat Hanafi Suyadi, ST, pemborong sekaligus perancang rumah, menambahkan kaca di bagian belakang gebyog. "Fungsinya untuk mengurangi angin dan debu yang masuk" ujarnya.

Gebyog gaya Kudus juga terdapat di Balai Shinta, gedung Mandala Bhakti Wanitatama. Gebyog ini ditempatkan hampir di tengah ruangan. Penempatan ini disesuaikan dengan fungsi gebyog di Balai Shinta, yakni pembatas ruang. Ruang bagian depan yang dibatasi gebyog lebih luas daripada bagian belakang. Penyebabnya, bagian depan sering digunakan untuk pameran atau pernikahan sedangkan bagian belakang hanya difungsikan sebagai kamar ganti atau dapur.

Seiring perkembangan zaman, fungsi gebyog mengalami pergeseran. Menurut Joyo Sumarto, pemandu Museum Tembi, fungsi utama gebyog di Rumah Jawa adalah pembatas pendopo dan ruang utama. Ruang utama terbagi menjadi tiga kamar yang memiliki fungsi berbeda. Bagian kanan sebagai kamar tidur, bagian tengah sebagai ruang semedi, dan bagian kiri sebagai ruang penyimpanan senjata.

Konsep Rumah jawa kemudian diadaptasi ke rumah modern. Adaptasi itu disertai penyesuaian fungsi gebyog. Menurut Anom Wibisono, S.Sn, Dosen Jurusan Design Interior Institut Seni Indonesia, penempatan gebyog di rumah modern sekarang lebih membentuk nuansa etnik Jawa yang ingin dihadirkan pemilik rumah. Pergeseran fungsi ini menambah nilai gebyog, selain sebagai pembatas ruang tetapi juga interior yang memperindah rumah.

Pergeseran fungsi gebyog membuat penempatannya tidak boleh asal-asalan. Menurut Anom, sebaiknya gebyok di area 'selamat datang' seperti area masuk ke ruang tamu. Balai Kunthi Mandala Bakti Wanitatama memasang gebyog di belakang pintu utama gedung, sehingga terdapat sisa ruang antara pintu utama dan gebyog. "Ruang ini untuk menyambut tamu sebelum memasuki ruang utama," ujar Surkomayisih, Staf Museum di Mandala Bakti Wanitatama. Gebyog juga dapat menjadi bagian dari bangunan, yakni tembok depan yang sekaligus menjadi pintu rumah. Seperti gebyog di pendopo kediaman Heroemoerti.

Masih menurut Anom, penempatan gebyog juga harus disesuaikan antara tema, dimensi ruang, dan dimensinya. Jika gebyog dibeli jadi dari pasaran, ukuran ruang harus menyesuaikan ukuran gebyog. Hanafi menyesuaikan tinggi dan lebar rumah Heroemoerti dengan gebyog yang berukuran tinggi tiga meter dan lebar lima meter itu. Rumah dibuat sedikit lebih tinggi karena penempatan gebyog menempel pada semen dan bata bagian atas. Sedangkan jika diperoleh melalui pemesanan, ukuran gebyog dapat disesuaikan dengan ukuran ruang yang tersedia.

Nuansa gebyog dapat ditonjolkan dengan pemilihan interior ruang pendukung yang tepat. Pilihan meubel harus disesuaikan dengan karakter dan dimensi gebyog. Untuk ukiran gaya Kudus yang rumit dan terkesan berat, pemilihan meubel di sekitarnya harus lebih sederhana dan proposional. Sementara jika ukiran gebyog tidak rumit seperti ukiran gaya Jawa dan Madura, pemilihan bentuk dan ukuran meubel dapat lebih bervariasi. Pemilihan meubel yang satu tema dengan nuansa gebyog dapat menonjolkan nuansa etnik jawa. Contohnya Balai Shinta yang memasang lampu Robyong di tengah ruang depan.

Gebyog dapat dipakai sesuai tema rumah. "Bisa gaya apa saja, modern minimalis atau yang lain tergantung rasa dari pemilik," ujar Anom. Dosen yang juga memiliki bisnis properti ini menuturkan gebyog dapat dipadu dengan properti lain. "Untuk menambah kesan luas ruang dapat ditambahkan cermin pada gebyog," imbuhnya. Sementara untuk mengubah kontruksi gebyog yang masih menonjolkan nuansa etnik Jawa, sebaiknya dilakukan dengan bantuan desainer.

Meski sesuai selera seni peminatnya, pemilihan gebyog tetap harus memperhatikan kualitas. Joyo Sumarto menuturkan pemilihan gebyog harus melihat kualitas tatahan ukiran, perpaduan kayu, sambungan antar kayu, dan kualitas kayu. Ia menambahkan kayu yang dipakai sebaiknya kayu jati. "Kayu jati itu bersih dan tidak usah dikasih pengawet, sudah awet," ujar Suraji, pemilik Sampang Art dan Antik yang juga maenerima pemesanan gebyog.

Gebyog tidak memiliki patokan harga yang pasti. "Orang senang kan berani bayar mahal," tukas Hanafi. Maka tidak mengherankan jika harga gebyog mencapai ratusan juta.

Nilai estetika yang muncul dari gebyog membuat kehadirannya di dalam rumah memberi makna tersendiri. Keindahan dan nuansa yang dibawa gebyog dapat menunjukkan citra pemilik rumah. Tak sekadar menjadi pembatas ruang, gebyog pun akan memberi rasa bangga bagi pemiliknya. [Nuraini]


Copyright 2007 Rumah Jogja Magazine - All Rights Reserved